Khamis, 25 September 2008

AL-QUR'AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT
Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"
Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"
Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."

Rabu, 24 September 2008

Syahwat Yang Halus..


Syahwat yang halus

(Keinginanmu untuk ber Tajrid / tidak bekerja dan mengandalkan kemurahan Allah padahal Allah menempatkan kamu pada maqam Asbab / harus bekerja untuk mendapatkan rizki, yang demikian ini termasuh syahwat yang sangat halus dan lembut. Dan keinginanmu untuk berada pada maqam Asbab padahal Allah menempatkan dirimu pada maqam tajrid , maka yang demikian ini adalah terjatuh dari himmah yang tinggi).
Yang dimaksud asbab adalah aktifitas yang menyebabkan seseorang mendapatken sesuatu dari harta dunia misalnya bekerja untuk mendapatkan rizki untuk menafkahi diri sendiri maupun keluarga. sedangkan yang dimaksud Tajrid adalah ketidak adanya aktifitas tersebut/ berusaha mendapatkan rizki dikarenakan sudah kuat tawakalnya kepada Allah yang telah menjamin rizki semua makhluk. Oleh karena itu barang siapa yang ditempatkan Allah ada maqam asbab kemudian ia ingin keluar dan berpindah ke maqam tajrid maka yang demikian ini adalah termasuk syahwat yang sangat halus dan lembut yang terkadang orang tidak menyadari bahwa dorongan tersebut berasal dari hawa nafsu. Dan dinamakan syahwat adalah dikarenakan oleh tidak adanya kerelaan hati terhadap apa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala kepadanya sedangkan yang ia kehendaki berlawanan dengan kehendakNya. Dan dinamakan syahwat yang halus atau lembut adalah karena ia tidak bermaksud dengan keinginannya tersebut untuk mendapatkan balasan dunia, akan tetapi sebenarnya yang ia maksudkan adalah hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi dengan keinginannya untuk berpindah dari apa yang telah Allah tetapkan baginya adalah termasuk menguraangi adab atau tata krama antara dia dengan Tuhannya, dan juga penilikannya kepada maqam yang tinggi padahal belum sampai waktunya baginya.
Adapun tanda-tanda seseorang ditempatkan Allah pada maqam asbab apabila ia tetap tetap tenang dengan bekerja dan menghasilkan rizki untuk bekal beribadah kepada Allah, sementara disela-sela kesibukannya mencari rizki, ia memperoleh kebaikan yang banyak dalam urusan agamanya demikian pula memperoleh keselamatan agamanya. dan juga dapat memutus ketamakannya kepada milik orang lain, dan dapat memperoleh niat yang untuk menolong orang faqir, dan lain-lain dari beberapa faedah harta benda yang berhubungan dengan agama.
Dan barang siapa yang ditempatkan Allah dalam maqam tajriid, kemudian ia menginginkan keluar dari keadaan tersebut ke dalam maqam asbab, maka yang demikian termasuk tanda lemahnya keyakinan dan cita-cita yang tinggi dan juga termasuk suu’ul Adab atau kurang tatakrama terhadap tuhannya, dan bahwasanya ia telah berada pada pengaruh syahwatnya yang besar , karena sesungguhnya tajridn adalah maqam / kedudukan yang mulia yang diberikan Allah kepada orang pilihanNya diantara orang-orang muhidiin, dan ‘arifiin. Maka apabila Allah Ta’ala menempatkannya pada maqam khawas / orang pilihan/istimewa, tentunya ia tidak akan melirik pada maqam/kedudukan yang lebih rendah daripadanya.




JANGAN SUKA MENYALAHKAN ORANG LAIN




Daripada Abu Hurairah ra bahawasanya Rasulullah saw. Bersabda: Jika ada seseorang berkata: Orang ramai (sekarang ini) sudah rosak, maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rosak di antara mereka"





KETERANGAN:
Imam Nawawi ketika menulis hadis ini dalam kitab Riyadhus-Shalihin beliau memberikan penjelasan seperti berikut:
Larangan semacam di atas itu (larangan berkata bahawa orang ramai telah rosak) adalah untuk orang yang mengatakan sedemikian tadi dengan tujuan rasa bangga pada diri sendiri sebab dirinya tidak rosak, dan dengan tujuan merendahkan orang lain dan merasakan dirinya lebih mulia daripada mereka. Maka yang demikian ini adalah haram.
Ada pun orang berkata seperti ini kerana ia melihat kurangnya perhatian orang ramai terhadap agama mereka serta didorong oleh perasaan sedih melihat nasih yang dialami oleh mereka dan timbul daripada perasaan cemburu terhadap agama, maka perkataan itu tidak ada salahnya.
Demikianlah yang dijelaskan oleh para alim-ulama dan bergitulah cara mereka menghuraikan permasalahannya. Di antara alim ulama yang berpendapat begitu ialah Imam Malik bin Anas, al-Khath-Thabi, al-Humaidi dan lain-lain.
Hadis ini sengaja diletakan diawal buku ini supaya menjadi suatu peringatan kepada kita bila menghuraikan hadis-hadis akhir zaman seperti apa yang dituliskan di sini yang banyak mendedahkan tentang kemunduran umat islam dan kemerosotan moral mereka. Oleh kerana itu apabila kita cuba mengaitkan hadis-hadis tersebut dengan realiti umat Islam dewasa ini, maka janganlah kita merasa bangga dan ujub dengan diri kita sendiri, bahkan hendaklah kita menegur diri kita masing-masing dan jangan suka menunding orang lain. walaupun hal kerosakan moral umat islam dewasa ini yang diketengahkan, biarlah pendedahan itu di dalam bentuk yang sihat, dengan perasaan yang penuh belas kasihan dan rasa cemburu terhadap agama, bukan dengan perasaan bangga diri dan memandang rendah kepada orang lain.
Mudah-mudahan Allah swt dengan limpah kurnianya mencucuri kita rahmat, taufiq dan hidayah. Amiin.